Notifikasi
Tidak ada notifikasi baru.

Panduan Lengkap Mengenal Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasi Diare pada Balita di Rumah

pelajari panduan lengkap cara mengatasi diare pada balita, tanda dehidrasi yang berbahaya, dan kapan harus segera ke dokter untuk penanganan medis

Cara menangani diare pada anak balita di rumah

Diare merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling sering dialami oleh balita. Meskipun terlihat umum, diare pada anak kecil tidak boleh disepelekan karena risiko dehidrasi yang dapat terjadi dengan sangat cepat. Sebagai orang tua, memahami kapan diare bisa ditangani di rumah dan kapan harus segera membawa si kecil ke dokter adalah kunci keselamatan buah hati.

Dalam artikel ini, kita akan mengupas tuntas segala hal tentang diare pada anak, mulai dari penyebab hingga langkah penanganan yang tepat sesuai standar kesehatan.

Apa Itu Diare pada Balita?

Secara medis, seorang anak dikatakan mengalami diare jika frekuensi buang air besarnya (BAB) meningkat menjadi tiga kali atau lebih dalam sehari, dengan konsistensi tinja yang lebih lembek atau cair dari biasanya. Pada bayi yang masih mengonsumsi ASI eksklusif, Bunda perlu lebih jeli karena tekstur BAB bayi ASI memang cenderung lunak. Perubahan yang drastis dan aroma yang lebih tajam biasanya menjadi indikasi kuat adanya gangguan pencernaan.

Penyebab Umum Diare pada Anak

Ada beberapa faktor yang sering menjadi pemicu diare pada balita, di antaranya:

  1. Infeksi Virus: Rotavirus adalah penyebab paling umum diare pada anak-anak di bawah usia lima tahun.

  2. Infeksi Bakteri atau Parasit: Biasanya berasal dari makanan atau minuman yang terkontaminasi (keracunan makanan).

  3. Alergi Makanan: Beberapa anak menunjukkan gejala diare setelah mengonsumsi susu sapi atau makanan pemicu alergi lainnya.

  4. Intoleransi Laktosa: Ketidakmampuan tubuh mencerna gula dalam susu.

  5. Kebersihan yang Kurang: Tangan yang kotor saat makan atau mainan yang tidak steril sering menjadi media perpindahan kuman ke mulut anak.

Langkah Penanganan Pertama di Rumah

Jika kondisi anak masih aktif dan mau minum, Bunda bisa melakukan langkah-langkah berikut:

1. Berikan Cairan Rehidrasi (Oralit)

Tujuan utama pengobatan diare bukan untuk menghentikan BAB-nya secara paksa, melainkan untuk mengganti cairan yang hilang. Berikan oralit setiap kali anak BAB cair. Jika anak muntah, tunggu 10 menit lalu berikan kembali sedikit demi sedikit.

2. Lanjutkan Pemberian ASI dan Makanan

Jangan menghentikan pemberian ASI. ASI mengandung antibodi yang membantu melawan infeksi. Untuk anak yang sudah MPASI, berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering. Hindari makanan yang terlalu berlemak atau mengandung kadar gula tinggi karena dapat memperparah diare.

3. Suplemen Zinc

Sesuai rekomendasi WHO dan IDAI, pemberian Zinc selama 10 hari berturut-turut sangat penting untuk mengurangi durasi diare dan mencegah kejadian diare berulang dalam 2-3 bulan ke depan.

Mengenal Tanda Dehidrasi pada Anak

Bunda harus waspada terhadap tanda-tanda dehidrasi berikut ini:

  • Mata terlihat cekung.

  • Anak terlihat sangat lemas atau terus mengantuk.

  • Sangat haus atau justru tidak mau minum sama sekali.

  • Air mata tidak keluar saat menangis.

  • Frekuensi buang air kecil berkurang (popok tetap kering lebih dari 6 jam).

Kapan Harus ke Dokter?

Segera bawa si kecil ke fasilitas kesehatan jika:

  • Terdapat darah dalam tinja.

  • Diare disertai demam tinggi yang tidak turun.

  • Anak muntah terus-menerus sehingga tidak ada cairan yang masuk.

  • Diare tidak membaik setelah 3 hari penanganan mandiri.

kesehatan anak
Join the conversation
Post a Comment